The Never Ending Asia of Jogjakarta (Part 4 – Prambanan Temple)

Karena ini adalah hari terakhir di mana William, Afandy, Alexander, dan Sumi akan pulang ke Jakarta (dengan menggunakan kereta!) maka kita memutuskan untuk check-out dari Hotel masing-masing sebelum berangkat pergi. Sebelum check-out saya akhirnya berkesempatan untuk menikmati breakfast di Hotel Harper (kemarin, karena mengejar untuk berangkat Lava Tour Merapi, saya tidak sempat menikmati breakfast). Kualitas dan ragam sajian buffet dari Hotel Harper ternyata cukup lezat dan variatif so be sure not to miss it when you stay here!

Tujuan kami satu-satunya hari ini adalah Candi Prambanan. Sebenarnya kemarin kami ingin mengejar mengunjungi lokasi ini sepulang dari Candi Borobudur. Sayangnya karena tempat yang terlalu jauh Candi Prambanan telah tutup sebelum kami sampai. Oleh karena itu pagi-pagi saat Candi Prambanan dibuka kami langsung mendatanginya – tak peduli dengan hujan gerimis yang masih turun rintik-rintik membasahi kota Jogjakarta pagi itu.

20170103_090230-01
The Beauty of Prambanan

Kendati sama-sama merupakan situs Sejarah Dunia, Candi Prambanan berbeda dengan Candi Borobudur karena ia adalah Candi yang beraliran agama Hindu – didirikan untuk menghormati Trimurti (Para dewa Shiwa, Brahma, dan Wisnu). Hal lain yang membedakan Borobudur dengan Prambanan adalah jumlah Candi yang terdapat dalam kompleks ini. Apabila Candi Borobudur merupakan satu Candi raksasa maka Candi Prambanan memiliki tiga Candi utama yang dikelilingi oleh banyak sekali Candi-Candi pendamping dalam satu lokasi. Sesungguhnya Candi-Candi yang ada harusnya bahkan lebih banyak lagi – sayangnya banyak Candi-Candi kecil sudah rusak karena termakan waktu. Kompleks ini mendapatkan pukulan lebih besar setelah lebih banyak lagi Candi kecil rusak terkena gempa Jogja di tahun 2006.

20170103_091310-01
Beberapa Candi mengalami kerusakan

Sama halnya dengan perasaanku melihat Candi Borobudur kemarin, melihat Candi Prambanan sekarang sebagai sosok yang lebih dewasa membuatku bisa mengapresiasinya. Membayangkan manusia-manusia pada jaman dahulu kala bisa membangun design arsitektur yang rumit dan banyak membuatku kagum. Tidaklah mengherankan kalau legenda kuno Roro Jonggrang menyebutkan kalau Candi-Candi itu dibangun dengan kekuatan gaib para Jin.

Kami jauh lebih beruntung kali ini dikarenakan situasi Candi Prambanan yang masih sangat sepi ketika kami datang. Tepat ketika kami sudah selesai mengagumi tempat ini dan mengambil foto-foto, kami bergegas pergi – tepat di saat para pengunjung-pengunjung lain mulai berdatangan memenuhi Candi Prambanan. Lucky us!

Maka berakhirlah liburan singkat kami semua. Dengan sedih (karena harus berpisah dengan teman-teman baru) sekaligus bahagia (karena pengalaman selama dua hari terakhir) keempat temanku pun turun di Stasiun Kereta Api Jogjakarta dan pulang ke Jakarta. Saya sendiri bersiap pulang ke Solo. Toh sebelum meninggalkan Jogjakarta saya tak lupa mampir ke tempat Bakpia yang sedang naik daun: Bakpia Kurnia Sari. Jogjakarta ini memang ibukotanya Bakpia dengan silih bergantinya merk-merk baru bermunculan naik daun dari tempat ini!

IMG-20170103-WA0021-01
I hope to travel with them again someday later!

Sambil mengemudi pulang ke Solo dan ngemil Bakpia diam-diam saya bersyukur singgah ke Jogjakarta untuk menikmati kota ini. Jogjakarta truly is the neverending Asia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s