The Never Ending Asia of Jogjakarta (Part 3 – Borobudur Temple)

Setelah selesai dengan Lava Tour Merapi, kami melakukan sedikit perubahan pada jadwal acara tamasya. Sebelumnya kami hendak menikmati sunrise di Candi Borobudur pada esok hari. Akan tetapi, menyadari bahwa badan mungkin terlalu letih untuk ‘dipaksa’ bangun subuh beberapa hari berturut-turut, kami pun memutuskan untuk langsung saja menuju Candi Borobudur.

Which is… kinda like a wrong decision.

Sesampainya kami di kompleks Candi Borobudur, kita bersantap siang terlebih dahulu di Restoran Manohara yang terdapat di dalamnya. Makanannya cukup enak dan kita mendapat akses untuk langsung bisa masuk ke dalam Candi Borobudur apabila mau (dengan harga tiket masuk yang lebih mahal daripada harga reguler). Walhasil, kami memutuskan untuk keluar setelah makan dan masuk saja melalui gerbang biasa.

2017_0102_14102500-01
My lunch in Manohara Restaurant

Remember what I said about not visiting a place when it’s on a long weekend? Candi Borobudur inilah alasannya. Kompleks ini pernah kusinggahi beberapa tahun yang lalu dan aku ingat cukup sepi. Situasinya kali ini berbeda. Sepanjang mata memandang semua adalah lautan manusia di Candi Borobudur. Baik turis lokal maupun mancanegara berjubel-jubel memadati dan mengagumi salah satu situs Sejarah Dunia (World Heritage Site) dari Indonesia ini.

Dan memang sepantasnya begitu.

20170102_141101
The Borobudur Temple Complex is truly grand!

Datang kali ini sebagai seseorang yang telah lebih dewasa dari sebelumnya, saya menyadari betapa mahsyurnya pembuatan dari Candi Borobudur ini dan betapa budaya Buddha pernah mengakar dengan begitu kuatnya di sini. Perlu diingat bahwa sebelum pengaruh Islam masuk ke Indonesia dan bahkan sebelum pengaruh Hindu (Majapahit) masuk ke Indonesia, kerajaan besar pertama negeri ini adalah Kerajaan Sriwijaya yang berorientasi Buddha. Candi Borobudur – kendati dibangun berabad-abad setelah kejatuhan kerajaan Sriwijaya – merupakan pengingat yang jelas untuk masa itu.

20170102_142956
The Magnificent Borobudur

Puas melihat Candi Borobudur kami melanjutkan perjalanan kembali ke Jogjakarta untuk menyantap dessert di Tempo Gelato. Funny fact here: beberapa bulan sebelumnya saya hendak mencoba makan di tempat yang nama lengkapnya Il Tempo del Gelato tetapi gagal, dikarenakan tempat itu super ramai pada hari Minggu. Kali ini pun tempatnya masih cukup ramai tapi kita nekat mencoba untuk antri dan berhasil mencicipi gelato terlaris di Jogja ini. The taste? Not bad!

2017_0102_18283200-01
Perfect timing (pardon the pun!)

Hari kami akhiri dengan pergi ke daerah Alun-Alun Jogjakarta. Sebelum mengelilingi Alun-Alun, kami terlebih dahulu menyantap Gudeg Jogjakarta. Bagiku rasanya biasa dikarenakan saya sudah terbiasa makan Gudeg di kota Solo. Dan bagi teman-temanku yang lain mereka tak merasa terlalu biasa dengan masakan Gudeg ini. Jadi tersadar, apa mungkin Gudeg bukan sebuah makanan yang bisa diterima oleh lidah universal ya?

2017_0102_22114900
I’ll always love Gudeg

Di Alun-Alun malam mulai beranjak larut sehingga kami tak kesampaian mencoba berjalan di tengah dua pohon beringin raksasa di tengahnya. Pernah dengar mitos kalau berjalan di tengah kedua pohon itu dengan mata tertutup secara sukses akan membuat impian kalian terkabul? Well, we never did try it but if you do have time, why not give it a go?

20170102_213611
The Sacred Two Trees

And that’s how our second day ended. Kami pun pulang ke hotel masing-masing dan mempersiapkan diri untuk one final trip di hari terakhir!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s